Catatan Calon Karyawan Archives - William Setiadi

Category Archives for "Catatan Calon Karyawan"

Catatan Calon Karyawan merupakan Panduan dan Strategi bagi Calon Karyawan untuk mendapatkan pekerjaan.

4 Tahapan Kompetensi Yang Menjadi Proses Belajar

Proses Belajar

Pada saat proses pembelajaran berlangsung tidak jarang seseorang menemui kesulitan dan hambatan. Kesulitan yang muncul seringkali berkaitan dengan “rasa sulit” yang muncul karena justifikasi yang mereka buat terhadap pengalaman diri sendiri selama mengikuti proses belajar tersebut.

Rasa sulit yang dihadapi seseorang memang merupakan tantangan yang ada didalam diri. Tetapi seyogyanya kita mengesampingkan rasa sulit ini. Pada bidang pekerjaan jasa yang saya geluti lebih dari 15 tahun, proses belajar adalah keniscayaan. Selain itu juga Semangat Melayani menjadi nafas dalam menggeluti pekerjaan ini.

Justifikasi terhadap diri sendiri seperti: “Aku tidak mampu melakukannya dengan benar”, atau “Saya tidak cukup bagus melakukannya” atau bahkan “Saya tidak akan pernah bisa mempelajarinya….”, menjadi penghambat mental yang signifikan dalam proses pembelajaran.

Perasaan semacam itu muncul karena orang tersebut tidak memahami kondisi kompetensi yang dia miliki saat ini, sehingga dia tidak tahu, kalau mau belajar mau mulai dari mana.

Tulisan ini membahas tentang tahapan belajar, yang awalnya diperkenalkan oleh Abraham Maslow sebagai Four Stage of Learning (Empat tahapan dalam belajar) pada tahun 1940-an.

Pemahaman tentang stage atau tahapan dalam belajar akan membantu seseorang untuk tetap fokus pada apa yang ingin dia capai dalam proses pembelajaran tersebut, tanpa kecemasan atau perasaan negatif tentang bagaimana caranya belajar.

“Kita adalah apa yang kita percayai.” – C.S. Lewis

Bagi fasilitator maupun para trainer, pemahaman terhadap Consious Competence Learning Matrix (CCLM) ini juga sangat penting. Seringkali fasilitator maupun para trainer bertindak terburu-buru dalam memberikan materi pembelajaran atau pelatihan, tanpa berusaha terlebih dahulu memahami kondisi awal para peserta/trainee-nya.

Mereka seringkali beranggapan bahwa para peserta adalah orang-orang yang sudah mengetahui pengetahuan/keterampilan apa (kompetensi macam apa) yang mereka butuhkan, dan seberapa banyak yang mereka butuhkan agar mereka bisa efektif.

Padahal bisa jadi diantara peserta tidak menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak mampu. Dia juga tidak tahu apa relevansinya pengetahuan dan ketrampilan itu dengan dirinya.

Akibatnya mereka tidak termotivasi untuk mempelajari suatu pengetahuan dan ketrampilan baru, karena memang tidak tahu apa yang tidak diketahuinya.

Konsep Four Stage of Learning ini selanjutnya dikembangkan secara terpisah oleh beberapa orang. Beberapa diantaranya menggunakan beberapa istilah yang berbeda, seperti Learning Matrix, Conscious Competence Matrix, atau The Conscious Competence Ladder meskipun esensinya adalah sama.

Salah satu praktisi pelatihan yang mengembangkan konsep ini adalah Noel Burch yang bekerja untuk US Gordon Training International Organisation pada tahun 1970-an. Noel Burch menggunakan terminologi Consious Competence Learning Matrix (CCLM) sedangkan W. Lewis Robinson, menggunakan istilah ‘conscious competence‘ .

Dan ternyata pada tahun 1969 Martin M. Broadwell juga pernah menjelaskan konsep ‘conscious competence‘ model, dalam artikelnya yang berjudul ‘Teaching for Learning‘.

Dalam tulisan ini, saya menggunakan istilah Consious Competence Learning Model (CCLM).

Conscious Competence Learning Model (CCLM) menjelaskan tentang bagaimana individu belajar dan tahapan-tahapan yang dilalui dalam proses pembelajaran tersebut hingga seseorang menguasai suatu kompetensi tertentu.

Menurut CCLM pembelajaran terjadi melalui 4 (empat) tahapan, yaitu :

Tahap 1: Unconscious Incompetence (tidak menyadari ketidakmampuannya)

Individu tidak memahami atau mengetahui bagaimana cara melakukan sesuatu dan tidak perlu tahu kekurangannya. Mereka mungkin menolak kegunaan suatu keterampilan. Individu harus mengenali ketidakmampuan mereka, dan manfaat keterampilan baru sebelum berpindah ke tahap selanjutnya. Pada tahap ini, waktu yang dibutuhkan oleh seorang individu tergantung pada kuat-tidaknya rangsangan untuk belajar.

Tahap 2: Conscious Incompetence (menyadari ketidakmampuannya)

Meskipun individu tidak memahami atau tidak tahu bagaimana caranya melakukan sesuatu, ia pasti tahu kekurangannya, sebagaimana ia tahu manfaat dari suatu keterampilan baru untuk mengatasi kekurangannya. Pada proses pembelajaran di tahap ini, membuat kesalahan bisa jadi merupakan bagian tak terpisahkan.

Tahap 3: Conscious Competence (menyadari kemampuannya)

Individu memahami atau tahu bagaimana cara melakukan sesuatu. Meskipun demikian, mendemonstrasikan keterampilan atau pengetahuan memerlukan konsentrasi. Hal ini dapat dijabarkan dalam beberapa langkah, serta memerlukan kesadaran tinggi untuk melakukan keterampilan baru.

Tahap 4: Unconscious Competence (tidak menyadari kemampuannya)

Individu telah banyak mempraktikkan keterampilannya yang sudah menjadi “kebiasaan” dan dapat dengan mudah melakukannya. Alhasil, ia dapat melakukan keterampilannya sembari melakukan hal lain. Individu bisa saja mengajarkan keterampilannya pada orang lain, tergantung bagaimana dan di mana ia dipelajari.

Kita adalah apa yang kita percayai. - C.S. Lewis Click To Tweet

Robinson (1974), menyatakan bahwa tahapan-tahapan dalam proses belajar ini bukanlah suatu model yang bersifat linier. Model Conscious-Competence ini bersifat spiral.

Ketika individu berhasil mencapai tahapan unconscious – competence dalam suatu pengetahuan dan ketrampilan baru, maka individu tersebut akan memulai lagi dari tahap awal saat ia menghadapi tantangan situasi yang baru atau saat ia melihat dan merasakan kebutuhan ketrampilan atau kompetensi baru lainnya.

Cara Sukses Mendapatkan Pekerjaan Yang Anda Inginkan

Sukses Mendapatkan Pekerjaan

Sejak kecil, orang tua memilihkan sekolah yang menurut mereka paling baik sesuai dengan pemikiran dan dengan segala keterbatasan yang dimiliki. Semua seolah – olah sudah menjadi hal yang otomatis, dan berurut. Pada akhirnya harus kuliah jika keuangan orang tua mampu dan selanjutnya bekerja. Jika keuangan orang tua tidak mencukupi maka, sejak Sekolah Menengah Pertama (SMP), selanjutnya diarahkan ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan harapan sehabis lulus adalah bekerja.

Satu hal yang saya pertanyakan, mengapa kita harus bekerja?

Selanjutnya