03 Apr 2017

Hidupku Belumlah Selesai

Hidupku belumlah selesai

Sudah beberapa hari ini selalu teringat dengan kata-kata, hidup yang telah selesai. Banyak artikel yang saya baca dan pahami untuk mengartikan, bagaimana hidup yang telah selesai?

Beberapa artikel memberikan pemahaman yang utuh untuk saya, terlebih kata ‘selesai’ bukan bermakna telah meninggal akan tetapi hidup yang sudah tidak didominasi oleh keinginan-keinginan duniawi. Terlintas dalam pikiran bahwa hanya orang-orang yang telah selesai dirinya yang bisa berbuat untuk orang lain. Dikehidupan kita banyak sekali kisah-kisah yang menunjukkan bahwa hidup seseorang telah selesai. Kita bisa melihat Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Arief Hidayat angkat bicara saat salah satu Hakim Konstitusi terjaring dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT). Hakim Konstitusi Itu Harus Sudah Selesai dengan Hidupnya.

Hidup yang telah selesai, hidup yang sudah tidak lagi memikirkan duniawi. Orang yang sudah selesai dengan dirinya, menunjukkan bahwa ia sudah muak dengan apa yang selalu dikejarnya, dibanggakannya. Ia sudah tidak lagi mencari ukuran dari pandangan manusia lain. Ia lebih cenderung mencari sisi spiritualnya yang sudah lama hilang.

Mereka tahu apa karakter mereka. Kelebihan dan kekurangan diri mereka. Apa potensi dan bakat yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka. Mereka sudah tahu apa tugas yang dibebankan kita di dunia ini oleh Tuhan.

Mereka sudah tahu apa yang menjadi passion mereka. Apa impian besar yang ada di kepala mereka. Juga apa nilai-nilai yang mereka yakini.

Kita tidak akan terlalu banyak memikirkan masalah diri kita sendiri lagi. Kita pun mulai memikirkan masalah-masalah di sekitar kita.

Memikirkan yang memiliki berbagai kesulitan dalam hidup. Memikirkan yang tidak punya akses ke pendidikan. Memikirkan anak-anak yang harus berada di jalanan untuk menyambung hidup.

Memikirkan betapa tayangan televisi sangat tidak mendidik. Memikirkan betapa pornografi sudah sangat merusak. Memikirkan bagaimana para pemuda bisa bergerak menjadi motor perubahan. Memikirkan bagaimana cara supaya pengangguran berkurang.

Memikirkan ini, itu, semua masalah besar yang ada di dunia ini.

Alih-alih skeptis, pesimis, dan berpikir “yah, emang kaya gitu, mau diapain lagi?“, orang-orang yang telah selesai dengan dirinya malah memikirkan “Apa yang harus aku lakukan untuk mengatasi masalah-masalah itu?”

Begitu luar biasanya orang yang telah selesai dengan hidupnya.

Semua bermula dari selesainya kita dengan diri kita sendiri. Selesai hanya memikirkan diri sendiri, kita pun memikirkan orang lain. Saya teringat apa yang dituliskan oleh Denny Siregar salah satu penulis Tuhan Dalam Secangkir Kopi, kegiatan sosialnya BIll Gates adalah mendirikan badan amal untuk kanker. Sedangkan Warren Buffet lebih senang jalan bersama cucunya. Anton Medan sudah muak dengan dunia hitamnya, sehingga kini ia merasa punya kewajiban untuk berbicara kepada anak muda supaya jangan terjerumus ke tempat yang sama. Mereka sudah selesai dengan dirinya dan sedang mencari kegunaannya kepada manusia lain.

Lalu kita melakukan langkah awal yang kecil untuk menyelesaikan satu bagian yang jadi perhatian kita. Tanpa sadar, kita pun telah melakukan sesuatu yang membawa manfaat untuk orang lain, masyarakat, bangsa, dan dunia ini.

Jika berkaca dengan pengertian dari beberapa artikel dan tulisan diatas, begitu banyak yang belum saya kerjakan. Masih banyak mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan, masih banyak ambisi yang menyeruak. Setiap hari, berlari mewujudkan mimpi diiringi dengan ego dan nafsu untuk menggapai.

Meskipun lelah, saya menyadari bahwa hidupku belumlah selesai. Sudahkah kamu berbicara dengan hatimu? Tanyalah, “Apakah aku sudah selesai dengan diriku sendiri?“ Jika belum, mari lanjutkan hidup untuk menyelesaikan mimpi ini hingga kita cukup dan bisa berbuat hal yang baik dan berguna untuk orang lain tanpa memikirkan ‘saya akan dibayar berapa’.

William Setiadi

Seorang Karyawan yang menyenangi buku-buku tentang Kepemimpinan, SDM . Media Blog ini merupakan tempat berbagi pengalaman.