Karyawan Ideal adalah 24 Jam Sehari dan 7 Hari Seminggu

Karyawan Ideal adalah 24 Jam Sehari dan 7 Hari Seminggu

Karyawan Ideal
Di awal tahun 2006, saat saya mendapat kepercayaan sebagai Manajer sebuah Koperasi, seorang Manajer senior ditingkat Koperasi Sekunder menyampaikan bahwa sebagai seorang Manajer wajib hukumnya untuk selalu siaga 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Saat itu saya tidak terlalu menghiraukan, terlebih di usia muda saya lebih melihat sebagai tanggung jawab jabatan saja.

Saat itu, pamor sang Manajer senior ditingkat Koperasi Sekunder begitu luar biasa. Apapun yang diucapkan bagai sebuah titah yang wajib untuk dijalankan oleh semua Manajer, tak terkecuali saya yang dinilai masih kemarin sore. Celakanya, Ketua Pengurus yang notabene adalah atasan langsung Saya mengamini dan menuntut untuk bekerja selama 24/7 tersebut. Bahkan saat saya mengajukan cuti yang menurut saya adalah hak seorang karyawan ditolak mentah – mentah dengan alasan, bahwa selama hidupnya hanya 2 kali beliau mengambil cuti ditempatnya bekerja, yaitu saat akan menikah dan saat istri beliau sakit keras.

Situasi yang telah berubah, bahwa yang saya pelajari pada umumnya, seorang karyawan teladan adalah sosok yang disiplin (datang tepat waktu dan pulang kerja pun tepat waktu), patuh kepada aturan dan setia kepada perusahaan. Karyawan yang ideal adalah mereka yang secara seimbang dapat mengatur waktu antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan. Namun atas nama dedikasi profesional, saat ini karyawan ideal diidentikkan sebagai karyawan yang mengabdi secara total, sekaligus juga selalu siap sedia dihubungi oleh atasan (yang notabene perusahaan) untuk urusan pekerjaan.

Hal seperti ini tidak saja pada perusahaan baru atau kecil (startup) juga perusahaan – perusahaan besar. Semua mengatasnamakan sikap profesional. Bahkan Manajer senior yang menjadi panutan bagi atasan saya, terus mendorong dan menyampaikan bagaimana sikap dan perilaku sebagai karyawan ideal atau teladan adalah yang mendidikasikan waktu, tenaga dan pikiran hanya untuk perusahaannya. Begitu luar biasanya. Saya pikir, seorang tenaga keamanan yang jumlah jam kerjanya pun akan kalah dengan jabatan seorang Manajer.

Lantas apa dampak terhadap dedikasi waktu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu bagi seorang Karyawan?

Dalam studinya yang dituangkan dalam artikel bertajuk The High Intensity Workplace (HBR, June 2016) Erin Reid dan Lakshmi Ramarajan menjelaskan 3 strategi yang lazim ditempuh oleh seorang Karyawan menghadapi sarat tuntutan ini adalah:

#1 Strategi Accepting

Strategi ini dilakukan oleh seorang Karyawan dengan menerima dan menyesuaikan diri apa adanya terhadap situasi ini. Mereka secara penuh memprioritaskan urusan pekerjaannya, dan rela mengorbankan dan mengabaikan hal – hal yang menyangkut pribadi sekali pun itu sesuatu yang penting. Studi yang dilakukan terhadap salah satu perusahaan consulting menyebutkan terdapat 43% Karyawan yang masuk dalam kelompok ini.

#2 Strategi Passing

Strategi ini dilakukan oleh seorang Karyawan dengan secara diam – diam mengalokasikan waktu untuk urusan pribadi, namun tetap aktif memantau urusan pekerjaan. Karyawan ini tampak akan siap sedia dengan serangkaian strategi dengan mengetahui kapan perusahaan membutuhkan waktunya maupun saat kosong dan akhirnya dapat mengerjakan hal – hal lain termasuk urusan pribadinya. Ada sekitar 27% Karyawan yang menggunakan strategi ini.

#3 Strategi Revealing

Strategi ini dilakukan oleh seorang Karyawan yang secara terang – terangan mengungkapkan urusan pribadi di luar pekerjaan dan secara terbuka meminta perubahan terhadap struktur pekerjaannya, seperti penataan ulang dan pembatasan jadwal kerja. Kelompok ketiga ini mencakup 30% dari karyawan yang disurvei.

Apapun pendekatan yang ditempuh oleh Karyawan menghadapi tuntutan dan tekanan pekerjaan yang intens ini, Reid dan Ramarajan menyimpulkan bahwa budaya kerja yang always available (selalu siaga) cenderung menimbulkan dampak buruk dan tak sehat. Entah berupa tingkat kecemasan kerja yang tinggi, hubungan dengan keluarga yang renggang, bahkan mengancam kesehatan fisik dan mental Karyawan yang bersangkutan.

Jika kita sepakat bahwa karyawan adalah aset sebuah perusahaan yang paling berharga, maka proteksi terhadap kehidupan pribadi karyawan menjadi sesuatu yang penting.

Menyadari hal tersebut, saya tidak akan memperlakukan Karyawan saya seperti halnya atasan dan sang Manajer senior di tingkat Koperasi Sekunder tersebut. Efek yang saya terima ternyata begitu luar biasa. Kehidupan pribadi saya pun menjadi hancur berantakan. Saya saat ini berusaha mengurangi jam kerja diluar waktunya.

Hari Sabtu dan Hari Minggu adalah waktu untuk libur dan kehidupan pribadi sehingga Saya berupaya untuk tidak mengganggu mereka dengan urusan pekerjaan. Dengan begitu, Saya berupaya mengefektifkan waktu saat bekerja yaitu 5 hari kerja, sejak hari Senin hingga hari Jumat adalah potensi untuk menggenjot urusan – urusan pekerjaan. Karena sejatinya seorang Karyawan hebat dan ideal adalah Karyawan yang mampu untuk seimbang antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan.

Jadi, alih – alih menginginkan kinerja Karyawan yang luar biasa namun mengorbankan waktu pribadinya. Nampaknya sang Manajer senior sudah tak laku lagi memberi titah dimasa saat ini.

William Setiadi

Seorang Karyawan yang menyenangi buku-buku tentang Kepemimpinan, SDM . Media Blog ini merupakan tempat berbagi pengalaman.