"Leaders Eat Last", Menjadi Seorang Leaders Seutuhnya
16 Apr 2018

“Leaders Eat Last”, Menjadi Seorang Leaders Seutuhnya

leaders eat last

Tulisan ini bukan untuk membahas buku Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull Together and Others Don’t karya Simon Sinek tahun 2014. Buku ini memang menjadi best seller, terutama di Amazone dan Goodreads. Beberapa hal memang terdapat dalam buku karya Simon Sinek ini.

Selama masa pendidikan Calon Paskibra (Capas) ditahun 1996-1997, saya mendapatkan pendidikan kepemimpinan ala militer. Ada hal yang selalu saya ingin pada waktu itu, saat saya menjadi Ketua Angkatan di satuan (sekolah). Sebagai Ketua Angkatan, saya harus mengetahui kondisi rekan saya yang merupakan adalah anggota tim saya.

Saat itu saya sama sekali tidak terpikir, mengapa setiap kali saya tidak bisa menjawab pertanyaan senior atau Pelatih mengenai alasan ketidakhadiran rekan saya, maka sudah pasti hukuman menanti. Bahkan saat masuk Pendidikan Dasar dan Asrama, sikap melindungi dan mendahulukan anggota tim kuat ditanamkan terlebih sebagai satu angkatan Paskibra Kodya Bandung yang diberi nama Bonanza 1997.

Setelah puluhan tahun, pengalaman itu membekas hingga saat ini. Saat menghelat sebuah kegiatan di kantor, dimana karena posisi jabatan yang diemban maka saya menjadi ketua panitia, adalah sebuah sikap bagi saya untuk mendahulukan para undangan untuk menikmati sajian makan siang. Saya meyakini bahwa hal ini adalah upaya untuk memberikan kepuasan serta kenyamanan bagi peserta untuk mengikuti perhelatan.

Siapa yang menyangka bahwa didikan untuk memperhatikan dan mendahulukan anggota tim atau undangan ternyata merupakan bagian dari sikap seorang leader yang dikenal dengan sebutan “Officer Eat Last” atau diterjemahkan sebagai:

“Para perwira makan paling belakangan”

Officer eat last merupakan bagian spirit kepemimpinan Korps Marinir AS. Ini bukan sekedar petuah heroik dari mulut sang komandan, tetapi memiliki maksud bahwa sebagai komandan atau leader hendaknya mendahulukan atau memperhatikan bawahannya.

Para Marinir muda makan terlebih dahulu, sementara yang lebih senior makan setelahnya. Apa yang terjadi di ruang makan ini merupakan cerminan dari apa yang terjadi di tugas sehari-hari. Seorang komandan atau leader akan mendahulukan kenyamanan, keselamatan dan kepentingan anggota tim yang dipimpinnya, daripada kepentingan diri sendiri.

Sikap ini selalu saya tanamkan kepada rekan-rekan kerja saya ketika mereka menjalankan tugas dan memegang amanah/jabatan. Sikap selalu memperhatikan dan mengutamakan bawahan menjadi bagian penting sebuah kepemimpinan. Membantu mereka untuk berkembang serta mengutamakan kenyamanan kerja merupakan tujuan dari implementasi ini. Mereka adalah generasi pemimpin selanjutnya setelah saya. Warisan yang baik ini harus terus diberikan sebelum saya meninggalkan jabatan ini.

Berbicara tentang seorang Leader, saya teringat tulisan Saiful Islam tentang “Standing on the Shoulder of Giants”, bahwa posisi yang paling krusial untuk menentukan sebuah bisnis bisa bertumbuh atau tidak adalah posisi Leader atau pimpinan perusahaan Anda. Leader atau pemimpin perusahaan biasa kita menyebutnya sebagai CEO.

Sebuah bisnis bisa bertumbuh dengan eksponensial atau “nyungsep” secara emosional adalah karena kebijakan-kebijakan dari CEO-nya. Kebijakan-kebijakan yang diambil tentunya terdapat unsur bagaimana seorang leader mengutamakan anggota timnya, berani mengambil resiko untuk kebaikan anak buahnya.

Mengapa kebijakan CEO atau leader di sebuah perusahaan menjadi penting?

Banyak sekali nama-nama besar dalam bisnis dunia yang 10 tahun sebelumnya dielu-elukan di buku-buku bisnis, pada dekade berikutnya sudah dibahas “kenapa bisnis itu bangkrut”

Jika Anda mengumpulkan ribuan kasus bisnis perusahaan-perusahaan yang bangkrut, kita akan menemukan bahwa blunder yang membuat mereka terjerembab sampai hanya tinggal nama adalah ulah dari CEO yang salah mengambil kebijakan.

Seorang Leader adalah nahkoda yang menentukan kemana arah kapal bergerak dan bagaimana kapal itu digerakkan. Oleh karena itu, hal pertama adalah arah kapal harus benar, karena sekali kapal salah arah ia akan mengambil jalan memutar dan ini artinya banyak resource atau sumber daya dari perusahaan yang terbuang. Sedangkan yang kedua seorang leader harus paham bagaimana menggerakkan kapal sesuai arah yang ditentukan. Kepandaian membaca arah tetapi tidak mampu menggerakkan sebuah organisasi akan berakibat fatal.

Untuk menganalisa bagaimana seorang leader atau CEO dalam mengambil kebijakan-kebijakannya, maka kita mengenal bagaimana model leadership yang digunakan.

Accidental Leader

Sesuai namanya Accidental Leader adalah tipe kepemimpinan yang lahir secara kebetulan. Dan kebetulan yang dimaksud diantaranya sistem pada perusahaan yang sudah jalan, sehingga leader pada tipe ini kelihatan cakap dan cepat sekali menapaki karir kepemimpinan.

Tipikal pemimpin ini sejatinya memang sangat ahli disatu bidang tertentu, akibatnya memiliki kesulitan dalam melihat dalam persepektif yang lebih luas. Ia sering “overrated” atau memberi pembobotan lebih pada bidang dimana ia ahlinya, namun membiarkan atau lupa melihat bahwa bidang lain juga sama pentingnya, bahkan lebih penting

Jika kebetulan bidang yang ia kuasai adalah bidang yang memiliki fungsi signifikan dalam bisnisnya, maka kemungkinan bisnisnya masih bisa berjalan dan berkembang

Kelemahan lain adalah kurang mampu menggerakkan anggota tim, serta cenderung kurang percaya akan kualitas kerja tim sehingga sering kali ia mengerjakan sendiri tanpa melibatkan anggota tim. Dampak dari kepemimpinan ini adalah perusahaan yang sulit untuk dibesarkan (scale up). Kualitas produk atau layanan memang prima, tapi cenderung stuck pada satu titik.

Ketika permintaan pasar terhadap produk meningkat pesat, ia tidak mampu merespon cepat untuk memenuhinya. Problem terbesarnya pada tipe kepemimpinan ini adalah jika ternyata core competencies yang dimiliki oleh pemimpin ini bukanlah bidang yang paling esensial dalam bisnisnya. Artinya ia cenderung memiliki probabilitas yang besar untuk memprioritaskan bidang yang seharusnya bukan menjadi prioritas. Jika terjadi seperti ini, maka bisnis yang dijalankan hanya menunggu waktu menemui ajal.

Anda bisa mendapatkan buku berbentuk PDF tentang The Accidental Leader: What to Do When You’re Suddenly in Charge Karya Harvey Robbins dan Michael Finley disini.

ELITIST LEADER

Menurut Dr. Thom Rainer, salah satu pakar leadership dunia, pemimpin elitis itu ciri-cirinya bisa dilihat dari hal-hal berikut, Ia merasa paling benar, paling expert, paling jago, paling mastah.

Faktanya memang expert. Karena biasanya Elitist Leader ini muncul dari tempaan yang luar biasa. Bedanya dengan kelompok Accidental, Elitist ini punya cara pandang yang lebih luas dalam suatu bisnis

Ia bukan hanya memahami dan ahli disatu bidang yang ia geluti saja, tetapi ia mampu memahami bisnis proses secara menyeluruh.

Jadi ia paham benar, mana bagian yg esensial dari sebuah bisnis. Mampu memprioritaskan mana yang lebih penting dalam bisnisnya dan mana yang kurang penting

Biasanya orang-orang ini seperti ini yang memulai dan merintis mulai ia kecil, dan mampu membuatnya hingga jadi sangat besar.

Jadi wajar kalo orang-orang tipe elitist ini tipikal orang-orang songong atau sombong.

Pemimpin seperti ini selain merasa paling benar, ia juga tipikal tidak bisa dikritik. Pemimpin elitis juga sangat peduli dengan citra diri, produk dan perusahaan.

Sebisa mungkin hal-hal buruk tentang pemimpin tersimpan rapat-rapat dan tidak boleh tercium publik

Salah satu perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia juga dari lahir dari pemimpin seperti ini

Siapa role modelnya? Steve Jobs

Sang Bapaknya revolusi digital.

Siapa berani bilang Steve Jobs orang gagal? tidak akan ada.

Ia pernah gagal? Pernah bahkan berkali-kali.

Tapi ia berhasil mengantarkan Apple dengan gemilangnya.

Namun tidak semua orang menyukai kaum elitis seperti Jobs.

Berdasarkan keterangan dari orang-orang yang pernah bekerja dengan Jobs rata-rata mengatakan Ia adalah orang

dengan level menyebalkan. Jobs memiliki kualitas dan standar karya yang sangat tinggi. Dan ia terlampau jujur dalam menilai kinerja bawahannya. Jika ia melihat ada ide, karya atau pemikiran anak buahnya yang tidak sesuai standarnya, dengan tanpa sungkan ia akan bilang “That’s shit”

Ia keras kepala dan susah sekali diberi masukan.

Namun apakah tipikal leaders seperti ini benar-benar tidak mau menerima masukan?

Tidak juga

Jobs bahkan sangat percaya kepada Jonathan Ive untuk masalah desain gadget-gadgetnya

Artinya hanya orang-orang yg mampu memenuhi standar kualitas dan ekspektasi sang leader saja yang memiliki kesempatan berbicara. Secara keseluruhan model kepemimpinan elitis ini sangat baik sekali untuk membentuk tim yang tangguh dan efektif.

POPULIST LEADER

Definisi POPULIST LEADER menurut Laclau (1977) adalah individu yang memiliki power atau kekuatan untuk mobilisasi massa, mampu berbicara mengatasnamakan kepentingan orang banyak, sebagai agen transformasi politik yang efektif, dibekali dengan kekuatan karisma atau daya tarik pribadi yang luar biasa.

Simpelnya tipe populis ini adalah tipe leader yang memiliki kemampuan menggerakkan massa/anggota tim.

Tipe ini sangat bertolak belakang dengan tipe sebelumnya.

Jika kaum elitis mengedepankan kemampuan, pengalaman dan professionalitas, namun menomorsekiankan pendekatan humanisme, tipe ini sebaliknya. Kemampuan mengendalikan massa dan pendekatan-pendekatan sisi kemanusiaan malah yang dinomorsatukan.

Inilah kenapa tipe populis gampang sekali diterima dan mendapatkan tempat khususnya pada anggota tim.

Terlepas si pemimpin ini benar-benar cakap atau tidak dalam menjalankan organisasi secara efektif.

Dalam sebuah organisasi bisnis yg sangat menuntut professionalisme dan performance yang tinggi, tipe ini bisa menjadi pedang bermata dua.

Jika latar belakang tipe ini adalah orang dengan kemampuan tinggi sekaligus memiliki cara pandang yang sangat baik, akan menjadi nilai tambah bagi perusahaan tersebut.

Sebaliknya jika kemampuan mempengaruhinya saja yang dikedepankan tanpa dibarengi latar belakang pengalaman yang kuat dalam menjalankan bisnis, bisa-bisa menjadi “backfire” atau membahayakan bisnis itu sendiri

Karena sekali ia merumuskan kebijakan yg salah secara otomatis anggota tim dibawahnya akan langsung mengikutinya.

Nah..

Terus gimana dong tipe leadership yang paling ideal untuk sebuah organisasi atau perusahaan?

Adalah model leadership yang tidak hanya stuck pada satu model saja, namun mampu menggabungkan kelebihan-kelebihan dari masing-masing tipe kepemimpinan. Ingat bahwa Leader adalah Pembuat Tim

Dari penggabungan model-model kepemimpinan ini, secara garis besar akan menghasilkan 3 kualitas kepemimpinan, yaitu:

  1. Memiliki Kompetensi;
  2. Memiliki Integritas;
  3. Memiliki Kepedulian.

Ketiga kualitas kepemimpinan ini akan memberikan semangat yang tinggi serta ikatan yang kuat bagi anggota tim dan merasakan ikatan kuat dengan perusahaan atau pemimpinnya.

Karena sekali lagi, seorang pemimpin yang hebat akan mendahulukan kenyamanan, keselamatan dan kepentingan orang-orang yang dipimpinnya, daripada kepentingan dirinya sendiri.

Summary
"Leaders Eat Last", Menjadi Seorang Leaders Seutuhnya
Article Name
"Leaders Eat Last", Menjadi Seorang Leaders Seutuhnya
Description
"Leaders Eat Last" merupakan inspirasi bagi Leaders seutuhnya. Karena seorang pemimpin yang hebat akan mendahulukan kenyamanan, keselamatan dan kepentingan anggota timnya dibandingkan kepentingan dirinya sendiri.
Author
Publisher Name
WS|William Setiadi
Publisher Logo