Lingkungan Sosial Yang Mendukung Peningkatan Motivasi Pribadi

lingkungan sosial yang mendukung kekuatan motivasi

Banyak orang mengikuti seminar dengan biaya yang cukup besar untuk mendapatkan motivasi. Sepulang dari mengikuti seminar tersebut, tampak ada perubahan.

Namun perubahan tersebut semu, hanya bertahan paling lama sebulan. Setelah itu, kembali ke asal. Rasa malas, lelah dan mudah menyerah menjadi makanan sehari-hari.

Mengapa demikian?

Studi empirik menyatakan bahwa keajaiban motivasi secara personal, yang berasal dari dalam diri Anda akan berdampak luar biasa dibandingkan mengikuti seminar-seminar motivasi.

Bagaimana Anda terus bersemangat, tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan kehidupan, semuanya bersumber dari dalam diri Anda. Dengan cara melakukan hal-hal kecil dan sederhana secara rutin dan terbiasa.

Baca Bagian ke-1

Karena Anda mempunyai semangat dan daya juang untuk terus meraih cita-cita Anda.

elemen kunci kekuatan motivasi

Untuk memiliki motivasi seperti itu, kita harus mempelajari 3 elemen kunci motivasi, dan bagaimana kita bersikap positif menghadapi seluruh tantangan kehidupan ini yang semakin berat hari demi hari.

Pada bagian ke-2 ini, kita akan membahas elemen selanjutnya yaitu Social Factors.

Elemen kunci kekuatan motivasi

Didalam Social Factors terdapat 2 hal:

#Lingkaran Pertemanan

Manusia sebagai makhluk sosial, tidak dapat dihindarkan dari hubungan dengan manusia lainnya. Bahkan mungkin Anda pernah mendengar pepatah

Bergaul dengan lingkaran pertemanan orang-orang yang optimis, berpikir positif, melihat tantangan sebagai peluang untuk memperbaiki diri, maka Anda akan tertular dengan semangat tersebut.

Lingkaran pertemanan akan menentukan level motivasi Anda bahkan tingkat kesuksesan Anda.

Salah satu bentuk lingkaran pertemanan adalah lingkungan kerja Anda.

Pengalaman saya, ketika memiliki karyawan yang malas-malasan, banyak komplain atau sering mengeluh biasanya tidak akan lama bekerja. Karena yang dibangun dari lingkungan kerja tempat saya adalah bagaimana bersikap positif dan semangat menghadapi tantangan.

Tidak ada ruang untuk karyawan saya menularkan energi-energi negatif.

Saya sampaikan jika Anda bekerja dengan energi-energi yang negatif (sering komplain, leyeh-leyeh, tidak bersemangat bertemu dengan Anggota/pelanggan, menyalahkan perusahaan/lembaga, merasa mendapat perlakuan tidak adil) maka tidak ada yang mau untuk “membayar” kita dan kita menjadi orang tukang komplain.

Jika tidak ada yang mau membayar kita, lantas dari mana kita mendapatkan penghasilan yang bernama gaji?

Pertanyaan sederhana, dimanakah tempat bekerja yang mampu memuaskan segala harapan Anda?

Jawabannya tidak ada.

Karena itu bersumber dari pikiran kita sendiri.

Dari hal tersebut, kita harus berhati-hati memilih rekan atau teman. Kalau kita salah memilih lingkungan pertemanan maka semangat motivasi kita pun akan turun drastis. Kita terbiasa dengan hal-hal yang negatif, tidak bersemangat bekerja, atau rentan menghadapi tantangan kehidupan.

Pilihlah lingkungan atau komunitas yang merayakan keberhasilan dengan energi-energi positif. Semangat menghadapi tantangan. Bukan yang sering mengeluh, menyalahkan situasi atau orang lain.

Lingkaran selanjutnya adalah lingkungan keluarga.

Keluarga yang mendukung pekerjaan Anda, tentu akan memberikan motivasi bagi diri Anda.
Banyak saya temui bahwa keluarga tidak mendukung untuk kita bekerja dengan serangkaian alasan-alasan yang saya pikir itu mengada-ada.

Ibu saya dahulu ditahun 2003, selepas saya menyelesaikan pendidikan Diploma 3 menyayangkan sikap saya memilih untuk bekerja di sini. Dengan alasan tempat saya bekerja ini tidak dapat memberikan masa depan yang cerah.

Ukurannya mungkin Anda tahu. Ukurannya adalah pensiun. Banyak orang yang mencari pekerjaan hanya mengejar nilai bernama gaji, namun lupa dengan masa pensiunnya.

Tetapi saya juga saat itu tidak memikirkan mengenai pensiun ini, saya meyakini bahwa bekerja dengan baik, semangat dan memberikan kontribusi untuk perkembangan lembaga maka akan berdampak kembali kepada saya.

Seperti hukum alam, semakin kita banyak memberi maka kita akan semakin banyak menerima.

Lingkungan keluarga yang mendukung pertemanan dan tempat bekerja sangat membantu untuk menjaga motivasi kita. Dapat dibayangkan jika kita bekerja dengan penuh semangat karena dukungan keluarga, pasti pencapaian yang dihasilkan luar biasa dan tentunya akan kembali lagi berdampak kepada keluarga.

Saya sering mendorong karyawan-karyawan saya, terutama yang perempuan dan telah menikah untuk tetap menjaga komunikasi dengan pasangannya sehingga dukungan dari pasangan membantu menjaga motivasi bekerja.

Jika karyawan itu belum menikah, saya sering mendorong mereka untuk memiliki cita-cita. Apakah yang dicari dari bekerja ini?

Minimal mereka semua terpenuhi sandang, pangan dan papan.

Kebutuhan dasar setiap manusia.

Setelah terpenuhi semua kebutuhan dasar mereka, maka selanjutnya adalah kontribusi bekerja yang diwujudkan dalam motivasi yang selalu terjaga dalam menghadapi tantangan bekerja maupun kehidupan.

#Temukan Mentor Yang Baik

Awalnya ketika saya mendengar kata Mentor atau mungkin saat ini bernama Coach terdengar aneh.

Seperti apa Coach ini? Bahkan beberapa rekan menyebut nama Coach ini, Coach itu.

Ternyata saya menemukan bahwa untuk pengembangan diri kita tidak hanya usaha dari diri kita sendiri. Kita harus mencari juga model, mentor atau coach.

Dalam lingkungan pekerjaan, siapa yang menjadi mentor? Tidak lain adalah atasan langsung kita atau karyawan senior.
Mereka adalah mentor kita.

Beberapa literatur menyatakan bahwa atasan kitalah yang menentukan produktivitas kita sebagai bawahan, bahkan berapa lama bawahan tersebut akan bertahan dalam perusahaan.

Mentor yang bijaksana, akan memberikan ruang atau waktu dalam memberikan nasehat yang berguna. Tidak hanya masalah pekerjaan tetapi juga pengalaman hidup.

Di dalam perusahaan saya yang berbentuk Koperasi Kredit, Anda dapat membayangkan bagaimana upaya untuk memberikan motivasi atau sebagai mentor bagi bawahan-bawahan saya.

Nama koperasi yang cenderung dicap buruk, sebagai tempat mencari keuntungan sesaat dengan melakukan praktik-praktik yang salah merupakan tantangan yang terus kami hadapi. Tidak jarang, karyawan bekerja setengah hati karena tempat ini bernama koperasi.

Berperan sebagai mentor dengan memberikan strategi, cara dan langkah terus diupayakan dari waktu ke waktu. Terkadang saya pun terdiam atau harus mengalah ketika banyak hal yang terjadi diluar kendali saya.

Ketika kita lelah, motivasi menurun, pekerjaan yang banyak, tekanan dari berbagai arah menjadi terasa ringan dengan adanya mentor. Mentor, memberikan motivasi untuk kita dalam mewujudkan cita-cita kita.

Sehingga kita tidak perlu menghadapi tantangan-tantangan yang telah mereka hadapi. Kita tinggal menjalani apa yang telah mereka alami.

Jika Anda tidak memiliki mentor, Anda dapat mencari komunitas-komunitas yang sepemikiran dengan Anda. Komunitas yang memberikan warna untuk meningkatkan kemampuan Anda. Carilah komunitas tersebut.

Saya pun mencari dan menemukan mentor dari Yodhia Antariksa, Blogger yang menjadi tempat saya belajar. Setiap hari Senin pagi, saya menunggu artikel yang renyah dan memberikan motivasi ketika sedang terpuruk, berada dalam kebimbangan untuk mengambil keputusan di lingkungan pekerjaan.

Saya belajar dari materi-materi yang disampaikan, untuk menambah kemampuan dan menjaga motivasi saya tetap terjaga setiap harinya.

Setiap orang memiliki keterbatasan dalam menghadapi tantangan. Disaat itulah diperlukan tempat untuk menyampaikan, mendapatkan sudut pandang lain agar kita mampu mengembalikan motivasi kita kepada tujuan atau cita-cita kita.

Kesimpulan

Pada bagian ke-2 ini kita dapat mempertahankan motivasi kita dalam menghadapi tantangan dengan membuat formula, lingkungan pertemanan yang mendukung kita berkembang secara positif, lingkungan keluarga yang mendukung pekerjaan atau aktivitas kita dan yang terakhir adalah mencari atau mendapatkan mentor yang selalu memberikan pemikiran-pemikiran positif.

Lingkungan Pertemanan, Lingkungan Keluarga dan Mentor yang tepat adalah formula terbaik sebagai kekuatan menjaga motivasi dalam menjalani kehidupan.

Kita bertemu diartikel selanjutnya yaitu elemen ke-3 dalam menjaga motivasi untuk menjalani tantangan kehidupan.

William Setiadi

Seorang Karyawan yang menyenangi buku-buku tentang Kepemimpinan, SDM . Media Blog ini merupakan tempat berbagi pengalaman.

  • Teguh

    Betul sekali, lingkungan memang sangat berpengaruh thdp motivasi seseorang. Terlebih dilingkungan kerja. Dorongan berprestasi seringkali padam krn terpengaruh ritme kerja rekans yg lamban…

    • Terima kasih atas komentarnya Pak Teguh. Semoga bermanfaat artikelnya. Jangan lupa bagian pertama juga sekira berkenan dibaca. Semua artikel berdasarkan pengalaman yang saya alami. Salam

  • Putu Candra

    Bukan hanya anak usia remaja yang bisa terpengaruh oleh lingkungan sosial.
    Orang dewasa pun bisa mengalaminya.
    Maka, kuatkan mental kita ketika berada di lingkungan sosial manapun.
    Dengan berjalannya waktu, kita akan mengenali apakah lingkungan sosial itu memberikan pengaruh positif atau negatif untuk kita.
    Hal ini tidak bisa dipisahkan dengan “willpower”.
    Jika kita ada di lingkungan yang negatif, pertanyakan pada diri sendiri: “maunya apa siih?”.
    Willpower akan mengarahkan agar diri memilih hal positif.
    Maka, segera tinggalkan lingkungan negatif itu.

    Thx untuk artikelnya 😃

    • Siap… Makasih ya Putu.. Ditunggu komentar selanjutnya. Dan juga koreksi kalo ada hal yang salah..

  • makasih infonya

    • Terima kasih kembali, terlebih telah berkunjung dan memberikan komentar. Semoga bermanfaat. Salam