Perencanaan Di Masa Pandemi
06 Oct 2020

Perencanaan Di Masa Pandemi

perencanaan di masa pandemi

Bulan Oktober nyaris sepekan

Hampir setiap hari di kantor sudah mulai turun hujan.
Disela-sela kesibukan mempersiapkan acara rutin tahunan di kantor, teringat setiap tahunnya membuat perencanaan untuk tahun depan.

Biasanya jika tidak sedang menghadapi pandemi Covid-19, bulan Agustus menjadi awal mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat perencanaan tahun depan.

Rekan-rekan saya di beberapa korporasi menganggap bulan Oktober merupakan bulan perencanaan. Ada juga sejumlah rekan yang bertanya, apakah tidak sia-sia membuat perencanaan setahun ke depan di tengah situasi yang tidak pasti karena pandemi?

Sulit menjawabnya.

Bahkan seorang CEO pernah bertutur setengah mengeluh kepada saya,

Di tengah kondisi pandemik, sungguh sulit membuat rencana kerja dan mengambil keputusan. Semua serba tak pasti. Menyusun rencana kerja sungguh-sungguh terasa gamang. Click To Tweet

Saya percaya apa yang dikeluhkan oleh CEO tersebut tidaklah dirasakan sendiri. Pandemi Covid-19 ini memang istimewa. Bahkan tak ada ahli yang bisa meramalkan, bagaimana wabah virus ini akan bergerak, dan kapan pula ia akan berakhir.

Namun, meskipun tampak akan sia-sia karena ketidakpastian dan adanya peluang besar perubahan, membuat perencanaan tetap diperlukan. Jangan sampai kita bertanya ini tugas siapa?

Perencanaan di Masa Pandemi

Dalam ilmu manajemen krisis, pandemi Covid-19 menghadirkan ketidakmenentuan pada tingkat yang nyaris sempurna, karena tak ada preseden serupa yang bisa kita pelajari juga tak ada kecenderungan (trend) yang bisa kita duga polanya.

Dalam menghadapi perkara masa depan, ada beberapa mazhab yang selama ini dianut oleh para pelaku korporasi. Mantan CEO General Electric (GE) yang sangat legendaris, almarhum Jack Welch memiliki jargon yang sangat terkenal, yakni,

Jargon ini paralel dengan semangat the best way to face the future is to create it. Pandangan ini meyakini bahwa sebuah organisasi memiliki kemampuan yang begitu hebat, sehingga bisa melepaskan diri dari pengaruh lingkungan sekitar, dan pada akhirnya mampu menciptakan masa depannya sendiri.

Sementara, ada kelompok yang “pasrah” menyikapi masa depan seturut dengan falsafah go with the flow. Mereka merasa bahwa masa depan terlalu besar untuk dibendung dan diarahkan, laksana Covid-19 yang nyaris tidak dapat dikendalikan.

Dengan demikian, sikap terbaik adalah mengikuti begitu saja apa yang terjadi. Ibarat ranting pohon yang jatuh ke sungai, praktis tanpa daya bergerak mengikuti aliran air. Pilihan sikap ini sekilas terlihat konyol, namun ternyata banyak studi yang menunjukkan bahwa sikap “pasrah” seperti ini justru membuat suatu makhluk lebih lentur menghadapi berbagai persoalan, dan akhirnya bisa bertahan hidup.

Seperti ranting pohon di atas, karena tak memberontak dan melawan arus, maka bisa terbawa hingga ke hilir tanpa tersangkut ataupun patah di tengah jalan. Walaupun pada akhirnya si ranting pohon juga tak tahu kemana perjalanannya akan berujung.

Ada sebuah pendekatan alternatif, yang disebut sebagai “jalan tengah” di antara kedua mazhab di atas. Para ahli menyebutnya scenario planning.

“Scenario planning is a discipline for rediscovering the original entrepreneurial power of creative foresight in contexts of accelerated change, greater complexity, and genuine uncertainty” Pierre Wack, Royal Dutch/Shell, 1984

Scenario planning merumuskan masa depan sebagai kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, dan itu tidak bersifat tunggal.

Penting juga untuk dipahami bahwa skenario disini bukanlah ramalan (prediction) namun gambaran-gambaran kejadian yang sangat mungkin terjadi di masa mendatang. Gambaran-gambaran kejadian ini dibuat dengan maksud menghentikan kebiasaan pola pikir yang suka mengasumsikan masa depan tak akan jauh berbeda dengan kondisi masa kini.

Scenario planning membiasakan kita untuk melihat masa depan sebagai kondisi “ketidakpastian”, dan mendorong kita untuk peka terhadap kenyataan-kenyataan baru yang mungkin terabaikan selama ini. Scenario planning adalah jalan tengah yang memungkinkan kita menyiasati masa depan secara agile, yakni lincah dan tanggap menyesuaikan diri dengan kenyataan yang ada.

Saya mengibaratkan seperti kapal di lautan dengan gelombang dan angin yang tidak pasti. Ketika kapal itu punya tujuan, gelombang dan angin yang menghantam bisa diajak bekerja sama untuk mewujudkan tujuan.

Sebaliknya, jika kapal tidak punya tujuan, setiap ada gelombang dan angin yang menggerakkan yang tidak menentu arahnya, akan dianggap sebagai tujuan.

Membahayakan bukan?

Click Here to Leave a Comment Below

Leave a Reply: