Visi dan Imajinasi
23 Mar 2017

Visi dan Imajinasi

visi dan imajinasi

Banyak orang bilang kehidupan yang dijalani tanpa imajinasi, tanpa visi dan bahkan tanpa tujuan serupa dengan kapal yang terdiam di hamparan samudera luas. Pergerakannya hanya mengikuti ombak.

Dalam perjalanan hidup, akan ada saat di mana kita masuk dalam zona penderitaan. Zona yang kita rasakan ketika hidup terasa muram, hati cenderung susah dan sempit. Seringkali kita menganggap masuk ke zona tersebut adalah sebuah kerugian yang harus dihindari dengan segala daya dan upaya. Padahal kita juga meyakini bahwa sangat mustahil kita menjalani hidup yang bebas dari derita.

Hanya sedikit orang yang tahu bahwa biasanya visi justru muncul ketika kita mengalami penderitaan.

Bagaimana kita menemukan visi kita?

Saya ingin bercerita kisah perjalanan saya bekerja.
Tahun 2003, ketika saya masuk bekerja di MCU, dan diangkat sebagai Manajer 3 tahun kemudian, banyak orang yang meragukan saya dan juga lembaga tempat saya bekerja ini. Pertama mereka meragukan karena banyaknya lembaga dengan nama serupa melakukan investasi bodong dan akhirnya uang menguap tanpa bekas.

Dan yang kedua adalah usia saya yang masih terbilang muda untuk memegang sebuah jabatan bernama Manajer. Padahal, saya sendiri merasa risih dengan nama jabatan tersebut. Bagaimana tidak, jabatan yang keren tersebut tidak sesuai dengan gaji dan jumlah anak buah. #ngenes… hehehe.

Saat itu sulit sekali untuk bergerak, membuat orang percaya dengan maksud dan tujuan kita atau lembaga tempat kita bekerja. Bahkan bos saya sendiri pun meragukan kemampuan yang saya miliki karena usia yang masih sangat muda. Saat-saat sulit ketika saya menerangkan ide dan rencana yang akan dijalankan. Tak banyak yang mau mendukung bahkan menyetujui.

Hampir setiap malam saya merenung dan berpikir apa yang esok hari harus dilakukan?
Terkadang menyesali keputusan sendiri ketika masuk bekerja ditempat ini. Tempat yang masih sangat ‘kosong’. Sama seperti banyak orang, dahulu ketika lepas dari kuliah yang terbayang adalah bekerja pada perusahaan besar dan mendapatkan posisi yang bagus, yang mapan. Tapi apalah daya, tak ada perusahaan besar yang menerima. Mungkin disinilah saya ditakdirkan. Oleh karenanya, tekad untuk bekerja dengan sungguh-sungguh menjadi tujuan utama saya disini.

Karena tempat ini merupakan pekerjaan formal saya yang pertama, banyak orang juga yang meragukan ‘kesetiaan’ saya bekerja. Bahkan ada juga salah satu atasan saya yang menanyakan sampe berapa lama akan bekerja, disaat baru satu tahun saya melewati masa kerja. Pertanyaan yang selalu saya ingat.

Setiap hari, saya selalu bekerja sampai larut malam tanpa dibayar lebih (lembur) karena di sini terkenal dengan bekerja dengan hati. Hehehe slogan yang mematikan. Tapi tak mengapa, karena saya meyakini lembaga ini, perusahaan yang saya perjuangkan, saya yakini akan menjadi besar. Satu prinsip yang saya pegang, orang baru yang sedang merintis karier harus mau menerima keadaan paling sulit sekalipun, dan harus mau lebih keras bekerja dibanding orang lain yang sudah mapan. Karena itulah, pekerjaan apapun yang ditugaskan pasti saya kerjakan.

Sejak awal, saya berupaya menjaga hubungan baik dengan atasan saya yang jumlahnya 10 orang. Dengan berbagai karakter dan pemikiran, saya berupaya untuk memahami dan bisa bersikap secara baik. Saya menyadari salah satu hubungan yang krusial adalah dengan atasan.

Dan benar, 3 tahun kemudian Surat Keputusan Pengangkatan saya sebagai Manajer ditandatangani per 01 Januari 2006. Ada perasaan bangga sekaligus juga bingung. Entah apa kriteria mereka mengangkat saya. Mungkin karena saya karyawan pertama sehingga dianggap lebih tahu dan lebih senior. Tapi bawahan saya usianya lebih tua dari saya. Kadang hal ini menjadi penghalang hubungan yang baik. Bagaimanapun, mereka yang lebih tua akan sulit menerima perintah dari orang yang berusia muda.

Perjalanan sepanjang 14 tahun bersama lembaga ini, mengajarkan bahwa saat kita mengalami penderitaan, otak kita berpikir untuk bagaimana keluar dari berbagai macam tantangan. Terlebih ketika kita dinobatkan sebagai pemimpin yang harus bersikap tegas dan memutuskan sesuatu yang berat, tidak populer. Bahkan tak jarang saya pun dibenci oleh pihak lain ataupun juga bawahan saya.

Saya teringat cerita tentang Teh Kotak yang saya baca dari Buku From Pinggir Kali To Gedongan. Jika Anda menyukai buku-buku motivasi, buku ini rekomen banget.

Dalam suatu pertemuan, pemimpin perusahaan menggelar diskusi tentang teh yang dibuat dalam kemasan kotak. Seorang atasan mengusulkan nama “TEH SARI WANGI”, tapi karena sudah ada teh kering yang namanya sama, jadi diganti menjadi TEH WANGI. Bos besar kurang sreg dengan nama itu, dan memberikan komentar (bukan mengusulkan) bagaimana dengan nama “TEH JASMIN” atau “TEH DUS”.

Nama TEH JASMIN atau TEH DUS dirasa tidak unik. Kalau tidak unik, produk teh baru tersebut bisa ditelan oleh pasar. Karena pasar telah mengenal “TEH BOTOL SOSRO”. Akhirnya ditemukan nama TEH KOTAK. Nama yang tepat untuk bersaing dengan teh botol dan mudah diingat karena keunikan namanya.

Setelah membicarakan berbagai aspek akhirnya keesokan harinya bos besar setuju. Singkat cerita, Teh Kotak berhasil merebut hati konsumen. Sejumlah strategi pemasaran yang tepat menjadi kunci kesuksesan produk tersebut.

Pertama, Trade Promotion (trade marketing) dijalankan secara simultan di seluruh Jawa. Semua tempat keramaian umum dan tempat yang menjadi pusat penjualan produk pesaing.

Kedua, Imitation Motive. Masyarakat Indonesia yang suka meniru perilaku pemimpinnya, baik pemimpin formal maupun informal. Misalnya jika Lurah atau Camat minum Teh Kotak, maka masyarakat yang melihat pasti akan menirunya.

Saat kita bingung menemukan visi, sesungguhnya kita tidak melakukan hal-hal yang berdampak terhadap tujuan hidup kita. Kita hanya menjalankan sama seperti kapal yang terdiam di hamparan samudera luas. Namun pada saat kita berpikir dan menjalankan tantangan-tantangan yang kita anggap sebagai zona penderitaan, sesungguhnya kita memulai untuk menentukan visi kita sendiri, karena kita mulai berpikir keras untuk keluar dari tantangan yang dihadapi. Bahasa saya adalah setiap malam berpikir apa yang harus dilakukan esok hari dalam mencari jalan demi mewujudkan mimpi atau menyelesaikan permasalahan. Mulailah dengan berimajinasi melalui kontemplasi.

Semua prestasi berawal dari imajinasi, yang dikemas menjadi sebuah visi, lalu dengan perencanaan misi dan aksi yang fokus pada eksekusi, maka tak ada tantangan yang tidak bisa dilewati. (Jhon Eddy Dharmasoeka)

Jadi jangan lelah untuk terus berimajinasi, kemudian wujudkan dalam aksi.

Sebagai penutup, saya tampilkan video dari web Teh Kotak, Getlost goes to Ora Island.